Selasa, 21 September 2010

when you stop being barbie



kemaren jumat saya dan temen-temen deket semasa smp memutuskan untuk nongkrong bareng di solosquare. eeh, ternyata ada obral buku. kebetulan setelah itu saya mau nunggu si dear boy jadi saya beli deh sebuah buku untuk iseng-iseng.

ternyata iseng-iseng yang saya beli seharga 5000 rupiah itu cukup menarik. judulnya 'When You Stop Being Barbie' karangan Mary Pierce. ini adalah kemajuan yang luar biasa dalam hidup saya karena saya biasanya males baca buku psychology / self-help, apalagi beli. ini bukan karena saya merasa seperti barbie lho. saya pikir judulnya cukup menarik apalagi dengan embel-embel tulisan di cover, "menjalani pertambahan usia dengan bahagia".

banyak orang yang mengutuk pertambahan usia. merasa benci melihat keriput halus di wajah, kaki yang tak semulus dulu, atau bahkan meratapi umur yang tidak lagi 17. memang apa masalahnya kalau kita sudah jauh dari usia 17? apakah itu berarti kita nggak bisa ngelakuin apa-apa lagi? di buku ini Mary Pierce menceritakan tentang kepanikannya menghadapi lemak yang bertumbuh di sana-sini sehingga dia harus memaksakan diri ikut klub kebugaran, selera fashionnya yang tidak bisa dibilang seperti barbie, kacamata baca yang merepotkan, dan berbagai kepanikan menuju usia paruh baya. tapi dia membuat segalanya menjadi lebih simple, lebih mudah, dan lebih ringan.

kalimat favorit saya di buku ini adalah
"tidak ada hal yang lebih menggelikan daripada melihat diri sendiri secara sangat serius"
kita nggak pernah tau apa yang terjadi dengan hidung kita saat sedang marah-marah. apakah lubang hidung kita membesar luar biasa, ataukah bulu hidungnya tampak gondrong berhamburan, hanya orang lain yang tau. senang sekali seandainya kita punya banyak waktu untuk mengamati sendiri hal-hal seperti itu. saya yakin itu akan membuat kita geli sendiri. dan tertawa adalah obat awet muda yang manjur. saya yakin kalau kita berusaha membuat semuanya tampak mudah dan menarik maka kita tidak akan pernah takut menjelang hari tua.

emang sih kita masih umur belasan tahun, tapi wacana ini bisa diibaratkan sebagai reminder untuk puluhan tahun mendatang. :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar